Fort Rotterdam

Foto: Sanko. / Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0
Fort Rotterdam adalah tempat wisata sejarah di tepi barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan, yang berdiri di atas bekas benteng Kesultanan Gowa bernama Benteng Ujung Pandang. Menurut catatan, benteng asal ini dibangun pada 1545 oleh raja Gowa kesembilan, Daeng Matanre Karaeng Manguntungi Tumaparisi Kallona, sebagai bagian sistem pertahanan pesisir. Setelah Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667, benteng beralih ke tangan VOC dan dibangun kembali bergaya Eropa atas prakarsa Cornelis Speelman. Nama Rotterdam diambil mengikuti nama kampung halaman Speelman dan bertahan hingga sekarang.
Hari ini, Fort Rotterdam berfungsi sebagai pusat budaya dan pendidikan yang dikelola lembaga museum nasional. Di dalamnya berdiri Museum La Galigo yang menyimpan koleksi arkeologi dan etnografi Sulawesi Selatan, melengkapi kunjungan yang tadinya sekadar memandangi dinding benteng. Karena berada di kawasan kota, benteng mudah disinggahi warga pada akhir pekan untuk berjalan santai, memotret arsitektur, maupun memahami babak sejarah kepulauan. Kawasan ini juga kerap menjadi ruang kegiatan budaya, dari pameran hingga pertunjukan kecil.
Dari Benteng Ujung Pandang Menjadi Fort Rotterdam
Benteng Ujung Pandang berdiri di titik pesisir yang strategis, menghadap laut dan muara yang menjadi jalur kapal. Penguasa Gowa-Tallo memilih lokasi itu untuk menjaga pelabuhan sekaligus menyambut kapal dagang yang singgah. Menurut sumber sejarah, benteng asal berbentuk persegi dengan dinding batu dan tanah liat, dilengkapi rumah-rumah kayu di dalamnya. Nama lain yang melekat pada benteng awal adalah Jum Pandan, yang kelak dihubungkan dengan asal nama Ujung Pandang. Pada masa itu, rempah-rempah menjadi tulang punggung perekonomian, sehingga menguasai benteng berarti menguasai jalur perdagangan. Perang antara Gowa-Tallo dan VOC pecah berulang kali sepanjang pertengahan abad ke-17. Sultan Hasanuddin memimpin perlawanan sampai akhirnya kekalahan memaksa penandatanganan Perjanjian Bongaya pada 18 November 1667. Sejak peristiwa itulah nama Ujung Pandang bergeser menjadi Fort Rotterdam di peta Eropa.
VOC lalu membongkar sebagian bangunan lama dan menyusun ulang benteng mengikuti pola benteng Eropa, dengan sudut-sudut yang memudahkan pengawasan ke segala arah. Pemugaran besar diprakarsai Cornelis Speelman setelah perjanjian ditandatangani, dan penataan itu berlangsung bertahun-tahun. Fungsi benteng berubah dari pusat pertahanan kerajaan menjadi markas militer sekaligus gudang penyimpanan rempah bagi pemerintah kolonial. Catatan menyebut benteng tetap dipakai hingga dekade 1930-an sebelum akhirnya diserahkan kepada yayasan pada 1937. Pada 1940, bangunan ini terdaftar sebagai bangunan bersejarah, dan pemugaran menyeluruh kembali dilakukan pada 1970-an. Kini benteng berstatus cagar budaya nasional dengan SK Menteri yang diterbitkan pada 2010. Perjalanan panjang itulah yang membuatnya disebut satu peninggalan kolonial paling utuh di Indonesia bagian timur. Pengunjung yang membaca keterangan di dinding biasanya terkesan pada rentang waktu yang dilalui bangunan.
Museum La Galigo dan Isi di Balik Dinding Tebal
Di dalam benteng berdiri Museum La Galigo, yang mengambil nama dari karya sastra panjang masyarakat Bugis. Museum ini menyimpan koleksi benda arkeologi, prasejarah, dan etnografi dari berbagai penjuru Sulawesi Selatan. Ruang pamer menampilkan temuan batu, peralatan tua, hingga benda kehidupan sehari-hari yang menggambarkan masyarakat maritim. Koleksi ini memperlihatkan bahwa Makassar bukan sekadar pelabuhan dagang, melainkan wilayah dengan lapisan budaya panjang. Pengunjung berjalan dari satu ruang ke ruang lain sambil membaca keterangan yang tersusun rapi. Di beberapa sudut, foto lama menampilkan kota dan pelabuhan pada masa kolonial. Karena koleksinya beragam, museum ini sering dijadikan tujuan edukasi bagi pelajar yang ingin memahami sejarah Sulawesi. Koleksi itu memperlihatkan hubungan erat masyarakat pesisir dengan laut dan perdagangan. Benda-benda harian yang dipamerkan melengkapi cerita yang jarang tersimpan dalam dokumen tertulis.
Arsitektur benteng sendiri menjadi daya tarik tersendiri. Dinding batu yang tebal berdiri mengelilingi halaman dalam, dengan menara pengawas di sudut-sudutnya. Parit kering masih terlihat di sekeliling, mengingatkan fungsi pertahanan benteng pada masa lampau. Beberapa meriam tua dipajang di halaman sebagai penanda bahwa tempat ini pernah menjadi pusat kekuatan militer. Jembatan menuju gerbang utama melintasi bekas parit itu, dan pintu besinya masih berfungsi hingga kini. Pengunjung dapat berjalan mengelilingi dinding luar sambil membayangkan bagaimana posisi ini dipantau dari menara. Halaman yang luas sering dipakai untuk kegiatan budaya, menjadikan benteng hidup bukan sekadar tempat pameran. Perpaduan sejarah dan kegiatan warga inilah yang membuat Fort Rotterdam terasa dekat dengan kehidupan Makassar hari ini. Pengunjung pun dapat merasakan langsung perpaduan masa lalu dan masa kini dalam satu kunjungan.
Menikmati Benteng pada Akhir Pekan
Fort Rotterdam berada tidak jauh dari garis pantai, sehingga udara laut terasa meski pengunjung berada di dalam kota. Warga biasanya datang menjelang sore untuk berjalan di halaman, duduk-duduk, dan menikmati angin dari arah laut. Dari kawasan benteng, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke kawasan Pantai Losari yang berjarak dekat. Rute sore hari itu cocok untuk keluarga, karena menggabungkan sejarah, ruang terbuka, dan pemandangan laut dalam satu waktu. Pengunjung yang datang bersama anak-anak dapat menjelaskan fungsi dinding, parit, dan menara dengan bahasa sederhana. Selain itu, halaman benteng yang rata membuat perjalanan mudah dilakukan oleh lansia sekalipun. Dengan waktu kunjungan sekitar satu sampai dua jam, destinasi ini mudah dimasukkan ke dalam jadwal liburan. Bila cuaca cerah, halaman menjadi tempat favorit untuk berfoto sekeluarga.
Sebagai cagar budaya nasional, benteng ini berada di bawah pengelolaan lembaga museum milik pemerintah. Aturan di tempat menjaga agar pengunjung tidak memanjat dinding atau merusak elemen bangunan. Pihak pengelola rutin merawat halaman, membersihkan dinding, dan memperbaiki bagian yang lapuk. Sekolah-sekolah di Makassar sering membawa siswa ke sini untuk belajar sejarah secara langsung, bukan hanya dari buku. Pengunjung dewasa pun datang untuk memotret detail arsitektur yang jarang ditemukan di bangunan lain. Kegiatan pameran dan pertunjukan sesekali digelar di halaman, menambah alasan untuk datang kembali. Dengan tetap menjaga keteraturan dan kebersihan, pengunjung ikut menjaga warisan ini agar tetap layak dikunjungi. Fort Rotterdam membuktikan bahwa masa lalu kota masih punya tempat di kehidupan warganya. Kunjungan yang teratur membuat warisan ini tetap terawat tanpa mengurangi kebebasan warga menikmatinya.
Sumber
- Wikipedia — Benteng Rotterdam (pendirian 1545, Perjanjian Bongaya 1667, status cagar budaya)
- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Selatan — profil obyek wisata Fort Rotterdam
- Kementerian Kebudayaan (Museum dan Cagar Budaya) — pengelolaan benteng dan Museum La Galigo
Pertanyaan Umum
Apa perbedaan Benteng Ujung Pandang dan Fort Rotterdam?
Benteng Ujung Pandang adalah nama asli benteng milik Kesultanan Gowa yang dibangun pada 1545. Setelah Perjanjian Bongaya pada 1667, benteng dikuasai VOC dan dibangun ulang bergaya Eropa dengan nama Fort Rotterdam. Jadi keduanya merujuk pada bangunan yang sama di lokasi yang sama, hanya berbeda masa dan penguasanya.
Apa yang bisa dilihat di Fort Rotterdam hari ini?
Pengunjung dapat menyusuri dinding tebal, halaman dalam, bekas parit, dan menara pengawas di sudut benteng. Di dalamnya terdapat Museum La Galigo dengan koleksi arkeologi dan etnografi Sulawesi Selatan. Halaman yang luas kerap dipakai untuk kegiatan budaya, sehingga selalu ada yang menarik untuk dilihat.
Bagaimana cara terbaik mengunjungi benteng ini?
Datanglah menjelang sore agar udara lebih sejuk dan kunjungan dapat disambung ke kawasan pantai yang berdekatan. Pilih hari kerja bila ingin suasana tenang, atau akhir pekan bila ingin melihat warga beraktivitas di sekitar kawasan. Selalu ikuti aturan pengelola dan tidak memanjat dinding agar peninggalan ini tetap utuh.
Rencanakan kunjungan ke Fort Rotterdam
Tanyakan jadwal, rute gabungan, dan ketersediaan rombongan — konsultasi gratis lewat WhatsApp.
Tanya Rute & Jadwal via WhatsApp